Pare-Pare – Matatajamjurnalis.Com || Pelaksanaan Car Free Night (CFN) di Kota Parepare kembali menuai sorotan tajam. Kali ini, kritik datang dari Muhammad Agung Nugraha, Ketua KNPI Kota Parepare, menyusul tragedi kecelakaan lalu lintas yang merenggut nyawa pengendara roda dua di Jalan Bau Massepe. Minggu, 4 Januari 2026.
Menurut Agung, tragedi tersebut bukan sekadar kecelakaan biasa, melainkan konsekuensi dari kebijakan publik yang dijalankan tanpa perencanaan keselamatan yang matang.
“CFN sejatinya lahir dari niat baik menghadirkan ruang publik. Tapi ketika pelaksanaannya justru memindahkan risiko dan bahaya ke ruas jalan lain, maka ini bukan lagi ruang publik yang manusiawi,” tegasnya.
Rekayasa Lalu Lintas yang Gagal Melindungi Warga
Agung menilai penutupan kawasan CFN di Mattirotasi dilakukan tanpa kajian rekayasa lalu lintas yang memadai. Penutupan tersebut justru mengalihkan arus kendaraan, termasuk kendaraan bertonase besar, ke jalur dalam kota yang tidak dirancang untuk menampung lalu lintas berat.
Jalan Bau Massepe, yang bukan jalur ideal bagi truk besar, akhirnya menjadi titik rawan.
Ketika kendaraan berat bercampur dengan pengendara roda dua di malam hari, tanpa pengamanan ekstra dan pengawasan maksimal, risiko kecelakaan meningkat drastis.
“Keselamatan warga tidak boleh dikorbankan hanya demi mengejar keramaian acara. Negara hadir bukan untuk memindahkan bahaya dari satu titik ke titik lain,” ujar Agung.
CFN Kehilangan Esensi dan Nilai Awal
Lebih jauh, Agung menilai pelaksanaan CFN di Parepare telah melenceng dari semangat awal Car Free Day/Night. Sejarahnya, CFD berkembang di Eropa sejak 1970-an sebagai respons terhadap krisis energi dan meningkatnya kesadaran lingkungan—bertujuan mengurangi emisi, menekan penggunaan kendaraan bermotor, serta mengembalikan ruang kota kepada manusia.
Namun dalam praktiknya di Parepare, kendaraan besar justru dialihkan ke ruas lain, emisi berpindah lokasi, dan risiko kecelakaan meningkat. Esensi lingkungan dan keselamatan pun menjadi hilang.
“Kalau kendaraan besar tetap beroperasi, hanya dipindahkan jalurnya, lalu apa bedanya? Ini bukan lagi car free, tapi car shift,” sindirnya.
Desakan Evaluasi dan Relokasi Lokasi CFN
Atas kondisi tersebut, Ketua KNPI Parepare mendesak pemerintah daerah untuk tidak lagi menjadwalkan CFN/CFD di kawasan Mattirotasi, yang merupakan urat nadi lalu lintas kota dengan tingkat risiko tinggi.
Sebagai alternatif, Agung merekomendasikan lokasi yang lebih aman dan representatif seperti Kawasan Hastom atau Anjungan Cempae.
Kedua kawasan tersebut dinilai lebih sesuai secara tata ruang untuk aktivitas publik tanpa mengganggu mobilitas utama warga maupun jalur kendaraan berat.
Keselamatan Adalah Ukuran Keberhasilan Kebijakan Menutup pernyataannya, Agung menegaskan bahwa keberhasilan sebuah kebijakan publik tidak diukur dari seberapa ramai sebuah acara, melainkan dari seberapa aman warganya.
“Satu nyawa yang melayang adalah harga yang terlalu mahal untuk sebuah agenda seremonial. Evaluasi CFN bukan penolakan terhadap ruang publik, tapi bentuk kepedulian agar ruang publik benar-benar aman, manusiawi, dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Redaksi : MTJN
Editor : ASM

